Setelah kemarin Cerita Sex Terpanas menghadirkan Kisah Sex Liburan dengan pacar sendiri. kali ini ada Kisah Sex Liburan yang dimana berhubungan dengan atasanya sendiri. Penasaran dengan ceritanya? Simak langsung di bawah!

Kisah Sex Pembantu Cantik Pembawa Nafsu Birahi

Menikmati Tubuh Indah Pembantu SeksiDelapan bulan sudah aku bekerja sebagai seorang pembantu rumah tangga di keluarga Pak Ardi. Aku memang bukan seorang yang makan ilmu bertumpuk, hanya lulusan SMP saja di kampong tempat aku tinggali. Tetapi karena niatku untuk bekerja memang sudah tidak bisa ditahan lagi, akhirnya aku pergi ke kota Medan, dan beruntung bisa memperoleh majikan yang baik dan bisa memperhatikan kesejahteraanku. Kisah Sex Pembantu

Ibu Ardi pernah berkata kepadaku bahwa beliau menerimaku menjadi pembantu rumah tangga dirumahnya lantaran usiaku yang relatif masih muda. Beliau tak tega melihatku luntang-lantung di kota besar ini. “Jangan-jangan kamu nanti malah dijadikan wanita panggilan oleh para calo WTS yang tidak bertanggungjawab.” Itulah yang diucapkan beliau kepadaku.

Usiaku memang masih 18 tahun dan terkadang aku sadar bahwa aku memang lumayan cantik, berbeda dengan para gadis desa di kampungku. Pantas saja jika Ibu Ardi berkata begitu terhadapku. Kisah Sex Pembantu

Namun akhir-akhir ini ada sesuatu yang mengganggu pikiranku, yakni tentang perlakuan anak majikanku Mas Brian terhadapku. Mas Brian adalah anak bungsu keluarga Bapak Ardi. Dia masih kuliah di semester 4, sedangkan kedua kakaknya telah berkeluarga. Mas Brian baik dan sopan terhadapku, hingga aku jadi aga segan bila berada di dekatnya. Sepertinya ada sesuatu yang bergetar di hatiku. Jika aku ke pasar, Mas Brian tak segan untuk mengantarkanku. Bahkan ketika naik mobil aku tidak diperbolehkan duduk di jok belakang, harus di sampingnya. Ahh.. Aku selalu jadi merasa tak Enak. Pernah suatu malam sekitar pukul 21.30, Mas Brian hendak membikin mie instan di dapur, aku bergegas mengambil alih dengan alasan bahwa yang dilakukannya pada dasarnya adalah tugas dan kewajibanku untuk bisa melayani majikanku. Tetapi yang terjadi Mas Brian justru berkata kepadaku, “Nggak usah, Sumiati. Biar aku saja, ngga apa-apa kok..” Kisah Sex Pembantu

“Nggak.. nggak apa-apa kok, Mas”, jawabku tersipu sembari menyalakan kompor gas.

Tiba-tiba Mas Brian menyentuh pundakku. Dengan lirih dia berucap, “Kamu sudah capek seharian bekerja, Sumiati. Tidurlah, besok kamu harus bangun kan..”

Kisah Sex Pembantu Cantik Pembawa Nafsu Birahi

Aku hanya tertunduk tanpa bisa berbuat apa-apa. Mas Brian kemudian melanjutkan memasak. Namun aku tetap termangu di sudut dapur. Hingga kembali Mas Brian menegurku. Kisah Sex Pembantu

“Sumiati, kenapa belum masuk ke kamarmu. Nanti kalau kamu kecapekan dan terus sakit, yang repot kan kita juga. Sudahlah, aku bisa masak sendiri kalau hanya sekedar bikin mie seperti ini.”

Belum juga habis ingatanku saat kami berdua sedang nonton televisi di ruang tengah, sedangkan Bapak dan Ibu Ardi sedang tidak berada di rumah. Entah kenapa tiba-tiba Mas Brian memandangiku dengan lembut. Pandangannya membuatku jadi salah tingkah. Kisah Sex Pembantu

“Kamu cantik, Sumiati.”

Aku cuma tersipu dan berucap,

“Teman-teman Mas Brian di kampus kan lebih cantik-cantik, apalagi mereka kan orang-orang kaya dan pandai.” Kisah Sex Pembantu

“Tapi kamu lain, Sumiati. Pernah tidak kamu membayangkan jika suatu saat ada anak majikan mencintai pembantu rumah tangganya sendiri?”

“Ah.. Mas Brian ini ada-ada saja. Mana ada cerita seperti itu”, jawabku.

“Kalau kenyataannya ada, bagaimana?”

“Iya.. nggak tahu deh, Mas.”

Kata-katanya itu yang hingga saat ini membuatku selalu gelisah. Apa benar yang dikatakan oleh Mas Brian bahwa ia mencintaiku? Bukankah dia anak majikanku yang tentunya orang kaya dan terhormat, sedangkan aku cuma seorang pembantu rumah tangga? Ah, pertanyaan itu selalu terngiang di benakku. Kisah Sex Pembantu

Tibalah aku memasuki bulan ke sembilan masa kerjaku. Sore ini cuaca memang sedang hujan meski tak seberapa lebat. Mobil Mas Brian memasuki garasi. Kulihat pemuda ini berlari menuju teras rumah. Aku bergegas menghampirinya dengan membawa handuk untuk menyeka tubuhnya. Kisah Sex Pembantu

“Bapak belum pulang?” tanyanya padaku.

“Belum, Mas.”

“Ibu.. pergi..?”

“Ke rumah Bude Mami, begitu ibu bilang.”

Mas Brian yang sedang duduk di sofa ruang tengah kulihat masih tak berhenti menyeka kepalanya sembari membuka bajunya yang rada basah. Aku yang telah menyiapkan segelas teh panas menghampirinya. Saat aku hampir meninggalkan ruang tengah, kudengar Mas Brian memanggilku. Kembali aku menghampirinya. Kisah Sex Pembantu

“Kamu tiba-tiba membikinkan aku minuman hangat, padahal aku tidak menyuruhmu kan”, ucap Mas Brian sembari bangkit dari tempat duduknya. Kisah Sex Pembantu

“Santi, aku mau bilang bahwa aku menyukaimu.”

“Maksud Mas Apa bagaimana?”

“Apa aku perlu jelaskan?” sahut Mas Brian padaku.

Tanpa sadar aku kini berhadap-hadapan dengan Mas Brian dengan jarak yang sangat dekat, bahkan bisa dikatakan terlampau dekat. Mas Brian meraih kedua tanganku untuk digenggamnya, dengan sedikit tarikan yang dilakukannya maka tubuhku telah dalam posisi sedikit terangkat merapat di tubuhnya. Sudah pasti dan otomatis pula aku semakin dapat menikmati wajah ganteng yang rada basah akibat guyuran hujan tadi. Demikian pula Mas Brian yang semakin dapat pula menikmati wajah bulatku yang dihiasi bundarnya bola mataku dan mungilnya hidungku. Kisah Sex Pembantu

Kami berdua tak bisa berkata-kata lagi, hanya saling melempar pandang dengan dalam tanpa tahu rasa masing-masing dalam hati. Tiba-tiba entah karena dorongan rasa yang seperti apa dan bagaimana bibir Mas Brian menciumi ku.

Nikmatnya Bercinta Dengan Pembantu Cantik

Aku telah mencoba untuk memerangi gejolak yang meletup bak gunung yang akan memuntahkan isi kawahnya. Namun suara hujan yang kian menderas, serta situasi rumah yang hanya tinggal kami berdua, serta bisik goda yang aku tak tahu darimana datangnya, kesemua itu membuat kami berdua semakin larut dalam permainan cinta ini. Ruang tengah ini menjadi begitu berantakan terlebih sofa tempat kami bermain cinta denga penuh gejolak.

Ketika senja mulai datang, usailah pertempuran nafsuku dengan nafsu Mas Brian. Kami duduk di sofa, tempat kami tadi melakukan sebuah permainan cinta, dengan rasa sesal yang masing-masing berkecamuk dalam hati. “Aku tidak akan mempermainkan kamu, Sumiati. Aku lakukan ini karena aku mencintai kamu. Aku sungguh-sungguh, Sumiati. Kamu mau mencintaiku kan..?” Aku terdiam tak mampu menjawab sepatah katapun. Kisah Sex Pembantu

Mas Brian menyeka butiran air bening di sudut mataku, lalu mencium pipiku. Seolah dia menyatakan bahwa hasrat hatinya padaku adalah kejujuran cintanya, dan akan mampu membuatku yakin akan ketulusannya. Meski aku tetap bertanya dalam sesalku, “Mungkinkah Mas Brian akan sanggup menikahiku yang hanya seorang pembantu rumah tangga?” Kisah Sex Pembantu

Sekitar pukul 19.00 malam, barulah rumah ini tak berbeda dengan waktu-waktu kemarin. Bapak dan Ibu Ardi seperti biasanya tengah menikmati tayangan acara televisi, dan Mas Brian mendekam di kamarnya. Yah, seolah tak ada peristiwa apa-apa yang pernah terjadi di ruang tengah itu.

Sejak permainan cinta yang penuh nafsu itu kulakukan dengan Mas Brian, waktu yang berjalanpun tak terasa telah memaksa kami untuk terus bisa mengulangi lagi nikmat dan indahnya permainan cinta tersebut. Dan yang pasti aku menjadi seorang yang harus bisa menuruti kemauan nafsu yang ada dalam diri. Tak peduli lagi siang atau malam, di sofa ataupun di dapur, asalkan keadaan rumah lagi sepi, kami selalu tenggelam hanyut dalam permainan cinta denga gejolak nafsu birahi. Selalu saja setiap kali aku membayangkan sebuah gaya dalam permainan cinta, tiba-tiba nafsuku bergejolak ingin segera saja rasanya melakukan gaya yang sedang melintas dalam benakku tersebut. Kadang aku pun melakukannya sendiri di kamar dengan membayangkan wajah Mas Brian. Bahkan ketika di rumah sedang ada Ibu Ardi namun tiba-tiba nafsuku bergejolak, aku masuk kamar mandi dan memberi isyarat pada Mas Brian untuk menyusulnya. Untung kamar mandi bagi pembantu di keluarga ini letaknya ada di belakang jauh dari jangkauan tuan rumah. Aku melakukannya di sana dengan penuh gejolak di bawah guyuran air mandi, dengan lumuran busa sabun di sana-sini yang rasanya membuatku semakin saja menikmati sebuah rasa tanpa batas tentang kenikmatan. Kisah Sex Pembantu

Walau setiap kali usai melakukan hal itu dengan Mas Brian, aku selalu dihantui oleh sebuah pertanyaan yang itu-itu lagi dan dengan mudah mengusik benakku: “Bagaimana jika aku hamil nanti? Bagaimana jika Mas Brian malu mengakuinya, apakah keluarga Bapak Ardi mau merestui kami berdua untuk menikah sekaligus sudi menerimaku sebagai menantu? Ataukah aku bakal di usir dari rumah ini? Atau juga pasti aku disuruh untuk menggugurkan kandungan ini?” Ah.. pertanyaan ini benar-benar membuatku seolah gila dan ingin menjerit sekeras mungkin. Apalagi Mas Brian selama ini hanya berucap: “Aku mencintaimu, Sumiati.” Seribu juta kalipun kata itu terlontar dari mulut Mas Brian, tidak akan berarti apa-apa jika Mas Brian tetap diam tak berterus terang dengan keluarganya atas apa yang telah terjadi dengan kami berdua. Kisah Sex Pembantu

Akhirnya terjadilah apa yang selama ini kutakutkan, bahwa aku mulai sering mual dan muntah, yah.. aku hamil! Mas Brian mulai gugup dan panik atas kejadian ini.

“Kenapa kamu bisa hamil sih?” Aku hanya diam tak menjawab.

“Bukankah aku sudah memberimu pil supaya kamu nggak hamil. Kalau begini kita yang repot juga..”

“Kenapa mesti repot Mas? Bukankah Mas Brian sudah berjanji akan menikahi Sumiati?”

“Iya.. iya.. tapi tidak secepat ini Santi. Aku masih mencintaimu, dan aku pasti akan menikahimu, dan aku pasti akan menikahimu. Tetapi bukan sekarang. Aku butuh waktu yang tepat untuk bicara dengan Bapak dan Ibu bahwa aku mencintaimu..” Kisah Sex Pembantu

Yah.. setiap kali aku mengeluh soal perutku yang kian bertambah usianya dari hari ke hari dan berganti dengan minggu, Mas Brian selalu kebingungan sendiri dan tak pernah mendapatkan jalan keluar. togel sgp Aku jadi semakin terpojok oleh kondisi dalam rahim yang tentunya kian membesar.

Cerita Mesum TernikmatGenap pada usia dua bulan kehamilanku, keteguhkan hatiku untuk melangkahkan kaki pergi dari rumah keluarga Bapak Ardi. Kutinggalkan semua kenangan duka maupun suka yang selama ini kuperoleh di rumah ini. Aku tidak akan menyalahkan Mas Brian. Ini semua salahku yang tak mampu menjaga kekuatan dinding imanku. Kisah Sex Pembantu

Subuh pagi ini aku meninggalkan rumah ini tanpa pamit, setelah kusiapkan sarapan dan sepucuk surat di meja makan yang isinya bahwa aku pergi karena merasa bersalah terhadap keluarga Bapak Ardi.

Hampir setahun setelah kepergianku dari keluarga Bapak Ardi, Aku kini telah menikmati kehidupanku sendiri yang tak selayaknya aku jalani, namun aku bahagia. Hingga pada suatu pagi aku membaca surat pembaca di tabloid terkenal. Surat itu isinya bahwa seorang pemuda Brian mencari dan mengharapkan isterinya yang bernama Sumiati untuk segera pulang. Pemuda itu tampak sekali berharap bisa bertemu lagi dengan si calon isterinya karena dia begitu mencintainya. Kisah Sex Pembantu

Aku tahu dan mengerti benar siapa calon isterinya. Namun aku sudah tidak ingin lagi dan pula aku tidak pantas untuk berada di rumah itu lagi, rumah tempat tinggal pemuda bernama Brian itu. Aku sudah tenggelam dalam kubangan ini. Andai saja Mas Brian suka pergi ke lokalisasi, tentu dia tidak perlu harus menulis surat pembaca itu. Mas Brian pasti akan menemukan calon istrinya yang sangat dicintainya. Agar Mas Brian pun mengerti bahwa hingga kini aku masih merindukan kehangatan cintanya. Cinta yang pertama dan terakhir bagiku. HABIS

Related Post

Like & Share !